Sejarah Singkat Batak
Dalam buku Sumatra karya Edwin M. Loeb disebutkan bahwa
penjelajahan tanah Batak yang sesungguhnya baru dimulai pada tahun 1823 ketika
Anderson mengunjungi pesisir Timur Sumatera lalu pada 1853, Van der Tuurk
menemukan danau Toba.
Suku Batak merupakan salah satu suku yang
terletak di Sumatera tepatnya sumatera Utara. Nama Batak merupakan sebuah tema
kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan
berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur. Ada beberapa yang dikategorikan ke
dalam suku Batak yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun,
Batak Angkola, dan Batak Mandailing yang akhir-akhir ini tidak mengakui sebagai
batak
Bangsa Batak memiliki sistem kepercayaannya sendiri, terutama di
daerah pedesaan masih mempertahankan sistem religi atau kepercayaan tersebut.
Orang batak percaya, bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta
Mula Jadi Na Balon. Ia bertempat tinggal di atas langit dan mempunyai nama-nama
sesuai dengan tugas dan kedudukannya. Namun, saat ini agama yang mendominasi
bangsa Batak adalah Islam dan Kristen. Tetapi agama Kristen merupakan agama
mayoritas suku Batak saat ini.
Daerah masuk dan penyebaran Islam adalah batak bagian selatan.
Sementara daerah penyebaran Kristen meliputi daerah adalah batak bagian utara.
Islamisasi di Batak dilakukan oleh para pedagang dari Minangkabau. Mereka
mengawini para perempuan Batak dan secara perlahan masyarakat Batak banyak yang
memeluk agama Islam. Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau
menyerang tanah Batak dan melakukan islamisasi besar-besaran atas Batak
Mandailing dan Angkola.
Adapun penyebaran agama Kristen dilakukan oleh seorang
misionaris asal Jerman sejak tahun 1860. Sebelumnya mereka menerbitkan buku
tata bahasa dan kamus Batak-Belanda. Dengan tujuan mereka dapat memudahkan
penyebaran agama Kristen yang dilakukan oleh orang Kristen Jerman dan Belanda.
Sasaran mereka adalah Batak Toba dan Simalungun. Batak Karo juga menjadi
sasaran misionaris Kristen, sehingga sebagian Batak Karon ada yang memeluk
agama Kristen.
Saat penkristenan dilakukan, Batak Karo dan Toba dapat
dikristenkan dengan cepat, sehingga pada abad ke-20 agama Kristen menjadi
identitas budaya mereka. Saat Belanda menancapkan kolonialisme Belanda di tanah
Batak, masyarakat Batak ini tidak banyak melakukan perlawanan terhadap kolonial
Belanda.
Diantara unsur kebudayaan yang dimiliki suku Batak adalah
kesenian. Tari Tor-tor merupakan kesenian yang dimiliki suku Batak. Tarian ini
bersifat magis. Ada lagi Tari serampang dua belas yang hanya bersifat hiburan.
Sementara alat musik tradisionalnya adalah Gong dan Saga-saga. Adapun warisan
kebudayaan berbentuk kain adalah kain ulos. Kain hasil kerajinan tenun suku
batak ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah,
upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan
upacara menari Tor-tor.
Komentar
Posting Komentar